Wiluyo Puspoyudo, Membangun Lemhannas dari Titik Nol

Pada 20 Juli 1964, seorang perwira tinggi bernama Mayor Jenderal TNI Wiluyo Puspoyudo dilantik di Jakarta. Yang diterimanya bukan komando atas sebuah pasukan atau wilayah. Ia mendapat tugas yang barangkali lebih sunyi, tetapi menentukan: menyiapkan sebuah lembaga yang belum pernah ada.

Tokoh79 Dilihat

Hari itu, Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal A.H. Nasution, melantiknya sebagai Ketua Staf Pelaksana pendirian Lembaga Pertahanan Nasional. Dasarnya Surat Keputusan Menko Hankam/Kasab Nomor M/E/1000/1964 tertanggal 11 Juli 1964.

Lembaga itu kelak dikenal sebagai Lembaga Ketahanan Nasional, Lemhannas.

Wiluyo bukan orang pertama yang memikirkan gagasan tersebut. Jauh sebelumnya, A.H. Nasution telah mengusulkan pembentukan lembaga pendidikan tinggi pertahanan nasional. Gagasan itu mendapat tanggapan positif dari Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja. Pada Desember 1962 dibentuk Panitia Interdepartemental untuk merumuskan bentuk dan tugas lembaga yang diinginkan.

Tetapi gagasan, betapapun besar, tetaplah gagasan sebelum seseorang mengubahnya menjadi organisasi. Wiluyo mendapat pekerjaan itu.

Sebuah lembaga di tengah zaman yang bergolak

Indonesia pada pertengahan 1960-an bukan negeri yang tenang. Politik bergerak cepat. Konfrontasi dengan Malaysia masih berlangsung. Perang Dingin membelah dunia. Pertarungan ideologi berlangsung keras di dalam negeri. Angkatan bersenjata memainkan peranan besar dalam kehidupan politik, sementara Presiden Soekarno menjalankan politik Demokrasi Terpimpin.

Di tengah keadaan semacam itu muncul pertanyaan: bagaimana mempersiapkan orang-orang yang kelak akan mengambil keputusan strategis untuk negara?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Lemhannas diperlukan.

Rumusan Panitia Interdepartemental yang disampaikan kepada Menteri Pertama pada 7 Maret 1963 menyebut kehadiran lembaga itu sebagai kebutuhan nasional untuk menjaga cita-cita Proklamasi, tujuan bangsa, dan kelangsungan hidup Indonesia di tengah percaturan politik dunia.

Konsepnya sejak awal sebenarnya cukup luas. Pertahanan tidak semata-mata urusan tentara. Negara harus dipandang sebagai satu kesatuan. Politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, dan pertahanan saling berkaitan. Para pemimpin sipil dan militer perlu memiliki cara pandang strategis terhadap keseluruhan persoalan itu. Di situlah Lemhannas hendak ditempatkan. Dan Wiluyo berada di garis awalnya.

Dari perwira lapangan ke ruang strategi

Wiluyo Puspoyudo berasal dari generasi perwira yang tumbuh bersama Republik, bukan produk sebuah negara yang sudah mapan. Generasinya mengalami masa ketika Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan sekaligus membangun organisasi negara yang belum sempurna.

Pengalaman semacam itu penting untuk memahami perjalanan Wiluyo yang kemudian masuk ke lingkaran kepemimpinan nasional dan dipercaya menempati sejumlah posisi penting. Namanya tercatat dalam sejarah MPRS dan lingkungan kepemimpinan Angkatan Bersenjata.

Ketika akhirnya dipercaya memimpin pembentukan Lemhannas, beliau membawa pengalaman seorang perwira yang telah melewati masa revolusi dan memasuki dunia politik kenegaraan.

Tugasnya pun berubah. Jika sebelumnya seorang perwira dituntut memikirkan bagaimana memenangkan pertempuran, kini ia harus memikirkan bagaimana sebuah bangsa memahami dirinya sendiri.

Lemhannas bukan markas pasukan, juga bukan sekolah militer biasa. Yang hendak dibangun adalah lembaga pendidikan strategis bagi calon-calon pemimpin bangsa.

Dari kertas menjadi lembaga

Surat keputusan telah dibuat. Staf telah dibentuk. Tetapi lembaga belum benar-benar hidup. Masih harus ada sistem pendidikan, kurikulum, tenaga pengajar, peserta, organisasi, dan konsepsi mengenai apa yang dimaksud dengan pertahanan nasional.

Pekerjaan semacam itu jarang masuk ke dalam cerita sejarah yang penuh nama besar.

Tidak ada dentuman meriam, tidak ada upacara kemenangan, namun justru pekerjaan administratif dan konseptual semacam itu yang menentukan apakah sebuah gagasan dapat bertahan atau mati sebagai dokumen.

Wiluyo mengurus tahap tersebut. Rencana awalnya, Lemhannas hendak diresmikan pada 10 November 1964, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Rencana itu tidak terlaksana. Peresmian kemudian dikaitkan dengan Hari Kebangkitan Nasional dan berlangsung pada 20 Mei 1965.

Presiden Soekarno meresmikan Lemhannas. Sebuah lembaga baru lahir dan Wiluyo menjadi gubernur pertamanya.

Gubernur pertama

Menjadi orang pertama dalam sebuah lembaga berarti bekerja tanpa tradisi yang bisa diwarisi. Tidak ada pendahulu,  tidak ada buku petunjuk yang lengkap, tidak ada pola kerja yang sudah teruji dan seluruhnya harus dibuat sambil berjalan.

Wiluyo memimpin Lemhannas pada periode 1965–1968, tahun-tahun yang termasuk paling bergolak dalam sejarah Indonesia modern. Lemhannas sendiri kemudian berkembang dan berganti nama dari Lembaga Pertahanan Nasional menjadi Lembaga Ketahanan Nasional. Namun fondasi awalnya telah diletakkan. Lemhannas mencatat Wiluyo sebagai gubernur pertama dalam periode 1965–1968.

Di sinilah arti penting Wiluyo Puspoyudo menjadi lebih jelas. Beliau tidak sekadar memimpin lembaga namun turut  membantu menentukan seperti apa lembaga itu harus bekerja.

Politik berubah, lembaga bertahan

Tidak lama setelah Lemhannas berdiri, Indonesia mengalami perubahan politik paling dramatis dalam sejarahnya.

Peristiwa 30 September 1965 mengguncang negara. Kekuasaan Soekarno perlahan beralih. Orde Baru muncul.

Wiluyo tetap berada dalam periode awal perubahan tersebut. Beliau memimpin Lemhannas ketika konsep tentang pertahanan dan masa depan negara sedang mengalami pergeseran besar.

Ada ironi sejarah di sana. Lembaga yang dibangun untuk memikirkan ketahanan negara justru lahir ketika negara sendiri sedang mengalami guncangan politik yang sangat dalam, tetapi mungkin justru karena itulah lembaga tersebut menjadi penting.

Sebuah negara tidak hanya membutuhkan pasukan untuk menghadapi ancaman. Ia membutuhkan orang-orang yang mampu membaca perubahan sebelum perubahan itu menjadi krisis. Itulah ruang yang kemudian ditempati Lemhannas.

Wiluyo Puspoyudo meninggal pada 9 Januari 1968. Beliau  belum melihat perjalanan panjang Lemhannas. Belum menyaksikan bagaimana lembaga itu berkembang, melahirkan ribuan alumni, dan menjadi tempat bertemunya pemikiran sipil dan militer mengenai masa depan Indonesia. Namun namanya tetap berada di halaman pertama sebuah sejarah lembaga yang telah menelurkan banyak pemimpin hebat.

Dalam peringatan 60 tahun Lemhannas pada 2025, makam Wiluyo di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata kembali diziarahi pimpinan Lemhannas.

Ada sesuatu yang menarik dari ingatan terhadap tokoh semacam Wiluyo. Sejarah sering lebih mudah mengingat orang yang meresmikan sebuah bangunan daripada mereka yang menyiapkan batu pertamanya.

Soekarno meresmikan Lemhannas, A.H. Nasution menggagas dan menggerakkan pembentukannya, tetapi sebelum lembaga itu berdiri, Wiluyo Puspoyudo ditugasi mengerjakan pekerjaan yang paling dasar, yaitu  membuat gagasan menjadi kenyataan.

Beliau menyusun fondasi sebelum orang lain dapat membangun lantai berikutnya. Maka jika sejarah Lemhannas hendak dibaca dari awal, nama Wiluyo Puspoyudo tidak semestinya ditempatkan hanya sebagai nama pertama dalam daftar gubernur.

Beliau adalah salah satu orang yang membuat lembaga itu mungkin berdiri. Seorang jenderal yang pekerjaannya bukan memenangkan perang, melainkan menyiapkan sebuah bangsa untuk memahami perang, perdamaian, kekuasaan, dan masa depannya. Di situlah jejak Wiluyo Puspoyudo bertahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *