Satu Dekade PYC, Dari Riset Energi Menuju Ketahanan Nasional

Info DPP51 Dilihat

JAKARTA – Sepuluh tahun bukan sekadar penanda usia bagi Purnomo Yusgiantoro Center (PYC). Di balik perayaan satu dasawarsa di Djakarta Theater, (18/6/2026),  terselip perjalanan panjang sebuah lembaga yang sejak awal menempatkan riset, pengetahuan, dan kolaborasi sebagai jalan untuk ikut menjawab persoalan strategis Indonesia.

Perayaan bertajuk “Light of Legacy” itu berlangsung meriah. Ratusan tamu dari berbagai kalangan hadir, mulai dari pejabat negara, tokoh masyarakat, akademisi, militer, pengusaha hingga keluarga besar PYC.

Namun, kemeriahan tersebut tetap dibalut kesederhanaan. Karakter itu terasa dalam sosok pendiri PYC, Prof. Purnomo Yusgiantoro, yang juga dipercaya memimpin DPP Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL-Lemhannas) periode 2026–2031.

Bagi Purnomo, PYC bukan sekadar lembaga kajian. Sejak didirikan, PYC menempatkan riset sebagai pilar utama untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan, terutama terkait sumber daya alam dan energi yang memiliki kaitan erat dengan ketahanan nasional.

Purnomo berpandangan, pembangunan tidak akan mencapai keberlanjutan tanpa dukungan sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, perhatian PYC tidak berhenti pada isu energi dan sumber daya alam, tetapi juga merambah pendidikan, kesehatan, budaya, serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Satu Dasawarsa Gagasan dan Pengabdian

Ketua Umum PYC, Filda Citra Yusgiantoro, mengatakan perjalanan sepuluh tahun PYC merupakan perjalanan gagasan, dedikasi, dan kolaborasi. “Sepuluh tahun bukan sekadar perjalanan waktu, tetapi perjalanan gagasan, dedikasi dan kolaborasi,” ujar Filda.

Menurut dia, satu dasawarsa perjalanan PYC merekam kerja bersama dalam memperkuat pemikiran dan kebijakan terkait ketahanan energi serta sumber daya strategis Indonesia. Pada saat yang sama, PYC terus mengembangkan kontribusi dalam bidang sosial, pendidikan, dan pelestarian budaya.

Sejak awal berdiri, kata Filda, PYC dibangun atas keyakinan bahwa pengabdian kepada negara harus bertumpu pada pengetahuan yang mendalam, kolaborasi inklusif, serta keberpihakan pada kepentingan bangsa.

Dalam perjalanannya, PYC berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat dipertemukan untuk mendiskusikan sekaligus merumuskan solusi terhadap persoalan energi dan sumber daya alam.

Menghadapi Transisi Energi dan Geopolitik

Tantangan yang dihadapi PYC dalam sepuluh tahun pertama juga tidak sederhana. Perubahan geopolitik, dinamika ekonomi global, dan transisi energi telah mengubah peta persoalan yang harus dihadapi Indonesia.

Menurut Filda, kondisi tersebut menuntut PYC terus beradaptasi dan melahirkan gagasan baru. “Di tengah tantangan tersebut PYC terus berkomitmen untuk menjadi jembatan antara pengetahuan dan kebijakan, antara ide dan implementasi,” katanya.

Filda menyebut sepuluh tahun pertama sebagai fase membangun fondasi. Sementara satu dekade berikutnya akan menjadi momentum bagi PYC untuk memperkuat posisinya sebagai mitra strategis dalam mendukung kebijakan yang inklusif.

Fokus tersebut terutama diarahkan pada sumber daya alam dan energi, sekaligus pengembangan sosial sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.

“Light of Legacy”

Perayaan satu dasawarsa PYC berlangsung dalam suasana penuh penghormatan terhadap perjalanan lembaga tersebut. Acara diawali dengan testimoni melalui videotron dari Menteri Dalam Negeri Jenderal Polisi (Purn) Prof. Dr. Tito Karnavian dan Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Dr. Sjafrie Sjamsoeddin.

Momen lain yang menjadi perhatian adalah pemotongan tumpeng melalui prosesi adat Jawa. Purnomo bersama istrinya, Lies, serta putra-putrinya terlebih dahulu mengeruk nasi tumpeng dari bagian bawah. Dalam tradisi yang digunakan dalam prosesi tersebut, puncak tumpeng yang melambangkan kekuasaan Allah SWT tidak langsung dipotong sebelum bagian bawahnya dikeruk.

Potongan nasi tumpeng kemudian diberikan kepada sejumlah pejabat militer dan sipil serta tokoh dunia usaha. Di antara penerima potongan tumpeng tersebut adalah mantan Menteri BUMN Dr. Ir. Mustafa Abubakar, M.Si., dan Sekretaris Jenderal DPP IKAL-Lemhannas Prof. Dr. Ir. Budi Soesilo Soepandji, DEA., CES.

Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk Siti Nuriyah Abdurrahman Wahid serta para petinggi militer dan sipil.

Dari Energi untuk Ketahanan Nasional

Perjalanan sepuluh tahun PYC pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang usia sebuah lembaga. Ia juga memperlihatkan bagaimana isu energi dan sumber daya alam ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas, yakni ketahanan nasional.

Indonesia menghadapi kebutuhan energi yang terus berkembang, tekanan transisi energi, persaingan sumber daya strategis, serta perubahan geopolitik. Dalam situasi tersebut, keputusan mengenai energi dan sumber daya alam tidak lagi semata-mata persoalan ekonomi.

Ia berkaitan dengan kedaulatan, daya saing, kesejahteraan masyarakat, dan kemampuan negara menjaga kepentingan nasional.

Di titik inilah PYC ingin mengambil peran: mempertemukan pengetahuan dengan kebijakan, riset dengan kebutuhan negara, serta gagasan dengan implementasi.

Perayaan “Light of Legacy” menjadi penanda berakhirnya satu dekade pertama sekaligus awal perjalanan berikutnya. Opera Pancaran Dharma turut menutup rangkaian acara melalui pagelaran sendratari yang menggambarkan perjuangan luhur manusia dalam mencapai cita-cita mulia.

Pesannya sejalan dengan perjalanan PYC: sebuah gagasan membutuhkan pengetahuan untuk tumbuh, kolaborasi untuk bergerak, dan pengabdian untuk memberi arti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *