Edmonton, Kanada, TelstraNews.com – Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI (IKAL), Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D., IPU yang juga Penasehat Khusus Bidang Energi Presiden Prabowo, tampil sebagai salah satu pembicara pada Konferensi Internasional Carbon Capture 2026 yang berlangsung di Edmonton, Alberta, Kanada.
Konferensi berlangsung 15-16 September, mempertemukan 150 pembicara dari berbagai kalangan seperti aparat birokrasi pemerintah, industriawan energi, para investor, eksekutif lembaga keuangan, ilmuwan/akademisi, para pengembang teknologi, hingga indigenous partners dari berbagai negara.
Dikutip dari laman resmi Carbon Expo Canada 2026, delegasi konferensi itu berasal dari Indonesia, Jepang, Norwegia, Singapura, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Dari Indonesia, Prof. Purnomo Yusgiantoro tampil sebagai pembicara kunci.
Topik utama konferensi bukan lagi membicarakan, “Apakah carbon capture diperlukan?” tetapi fokus pada bagaimana Carbon Capture Canada (CCS)/Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) benar-benar dibangun, dibiayai, diatur dan dijalankan dalam skala besar.
Intinya bagaimana CCS, CCUS, carbon markets, pembiayaan/investasi proyek, regulasi, pembangunan infrastruktur transportasi dan penyimpanan CO₂, direct air capture, industrial decarbonization, teknologi baru, serta kerja sama internasional diambil, dimanfaatkan atau disimpan di bawah tanah. Tujuannya agar industri yang sulit menghilangkan emisi—misalnya semen, baja, minyak/gas dan industri berat—dapat mengurangi CO₂ yang dilepas ke atmosfer.
Konferensi itu penting mengingat ada persoalan besar, yakni banyak negara mempunyai target pengurangan emisi, tetapi industri berat tidak mudah didekarbonisasi hanya dengan mengganti listrik menjadi renewable energy. Dalam konteks itu, CCUS menawarkan salah satu jalur: bagaimana menangkap CO₂ sebelum dilepas ke atmosfer, kemudian mengangkut dan menyimpannya secara aman atau memanfaatkannya.
Hambatan utama saat ini bukan hanya teknologi, tetapi siapa yang membayar, apakah proyek layak secara ekonomi, bagaimana harga karbonnya, siapa bertanggung jawab terhadap CO₂ yang disimpan selama puluhan tahun, bagaimana regulasinya, dan bagaimana membangun jaringan transportasi serta storage bersama.
Itulah sebabnya, masih dikutip dari laman resmi konferensi, tema seperti “The Bankability Test” muncul pada konferensi 2026. Investor perlu kepastian pendapatan dan kebijakan jangka panjang sebelum berani mengucurkan miliaran dolar untuk proyek CCUS.
Konferensi internasional itu penting bagi Indonesia karena banyaknya industri minyak dan gas, semen, pupuk, pembangkit dan industri berat yang bekepentingan untuk menghilangkan emisi mengingat Indonesia juga memiliki potensi geological storage untuk CO₂. Dalam konteks seperti itu, sesuai dengan pernyataan Prof. Purnomo, menjadi penting adanya kerja sama Kanada–Indonesia untuk membuka peluang CCS/CCUS dan capacity building di Indonesia. (Erina Tobing)






